Seni Tato Di Antara Tabu dan Populer

Posted on

Kata “tato” berasal dari Tahiti, “tatu” berarti menandakan sesuatu. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tato berarti gambar atau lukisan pada bagian (anggota) tubuh. Rajah adalah praktik yang hampir ditemukan dimana-mana dengan fungsi sesuai dengan adat istiadat setempat. Rajah dulu digunakan oleh suku-suku di wilayah dunia sebagai tanda wilayah, derajat, barisan, bahkan menandakan kesehatan seseorang.

seni tato - Seni Tato Di Antara Tabu dan Populer
Pelukis rajah Rahmad Subhan sedang melukis rajah di tubuh modelnya di studio Suban Tattoo, Mall Taman Palem, Cengkareng, Jakarta Barat, Kamis ( 30/3). (HARIAN NASIONAL | YOSEP ARKIAN )

Rajah banyak digunakan oleh orang Polinesia, Filipina, Kalimantan, Afrika, Amerika Utara, Amerika Selatan, Mesoamerika, Eropa, Jepang, Kamboja, dan Cina. Meski di beberapa kalangan rajah dianggap tabu, seni rajah tetap menjadi sesuatu yang populer di dunia.

Keberadaan tubuh di dunia sudah lama ada dan bisa ditemukan di segala pelosok dunia. Secara historis, tubuh telah rajah sejak 3000 tahun sebelum Masehi (sebelum Kristus). Tato ditemukan untuk pertama kalinya dalam mumi yang ada di Mesir. Dan konon hal itu dianggap membuat tato kemudian menyebar ke suku-suku di dunia, termasuk salah satu suku Indian di Amerika Serikat dan Polinesia di Asia, kemudian berkembang menjadi semua suku di dunia salah satu suku Dayak di Kalimantan.

Tato yang dibuat sebagai simbol atau spidol, bisa memberi kebanggaan bagi pemiliknya dan simbol keberanian dari pemilik tato. Sejak tato pertama dibuat juga memiliki tujuan seperti itu. Tato diyakini sebagai simbol keberuntungan, status sosial, kecantikan, kedewasaan, dan harga diri.

Awalnya, tato dipandang sebagai produk budaya. Pandangan sekarang bergeser, satu seni menggambar di media kulit sebagai bagian dari identitas umum. “Jadi sekarang enggak berbeda dengan tren memakai kacamata atau sanggurdi, misalnya,” kata Pengamat Sosial dari Universitas Indonesia Devie Rahmawati ke Hari Nasional di Jakarta, Rabu (29/3).

Dari kacamata sosial sebenarnya tato alamnya sangat dinamis. Intergenerasi juga berbeda dalam menggambarkan dan melihat keberadaan tato. “Antara remaja dan orang tua, berbeda dengan ritual dan kebiasaan yang membentuk (pandangan) mereka,” kata Devie.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *